Legenda Ular Kepala Tujuh

Cerita rakyat Legenda Ular Kepala Tujuh

Legenda ular berkepala tujuh merupakan legenda yang terkenal. Di jepang juga ada mitos atau legenda Ular kepala delapan yang disebut yamata no orochi / hachibi (ekor delapan) adalah Bijuu berbentuk ular ( jika terterik bisa baca ceritanya juga ). Cerita itu juga sering di pakai di film – film cartoon seperti doraemon, dll. Kalau di Indonesia kita punya cerita rakyat nusantara Legenda Ular Kepala tujuh, yang berasal dari Bengkulu, yang berasal dari kerajaan Kutei Rukam…. Ingin tahu cerita Ular Kepala tujuh, ikuti ceritanya di bawah ini. ( Baca juga Cerita Rakyat Asal Usul ikan patin )

Legenda Ular Kepala Tujuh

 

Dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang berada di Bengkulu Indonesia. Kerajaan itu di pimpin oleh seorang Raja bernama Raja Bikau Bermano. Ia memiliki delapan orang putra. Suatu hari salah seorang putranya bernama Gajah Meram akan menikah dengan Putri Jinggai dari Kerajaan Suka. Upacara pernikahannya itu diadakan di tepi Danau Tes. Ketika acara itu sedang berjalangsung. Tiba ada seekor ular yang besar datang ke sana, menghancurkan acara itu dan membawa Gajah Meram dan Putri Jinggai. Para abdi kerajaan yang selamat dari serangain itu melaporkan hal tersebut kepada Raja Bikau Bermano.

“Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.”

“Apakah itu, Tun Tuai! Apa yang terjadi dengan putraku dan Putri Jinggai?” tanya sang Raja penasaran.

“Ampun, Baginda! putra mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular di Danau Tes, pada saat melangsungkan acara pernikahan” tun tuai melaporkan hal itu dengan penuh ketakutan.

“Raja Ular itu sangat sakti, dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes, hamba tidak mampu menolong Gajah Meram dan Putri Jinggai, maafkan hamba tuan.” tambahnya.

“Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,” ujar sang Raja.

“Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang.

Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes.

“Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang berani menyelamatkan putra dan calon menantuku, akan aku beri hadiah sebagai imbalan?” tanya Raja Bikau Bermano.

Suasana sidang menjadi hening. Tidak ada seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Dalam keheningan itu, tiba-tiba gajah Merik putra bungsu raja berdiri dan mengajukan diri. Semua peserta sidang langsung terkejut karena pada saat itu Gajah Merik masih berusia 13 tahun.

“Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10 tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik.

Cerita Rakyat Bengkulu Ular kepala tujuh

Mendengar cerita Gajah Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. Raja Bikau Bermano menyetujui dan menyuruh Gajah Merik pergi menyelamatkan kakaknya diikuti dengan pasukan pengawal.

Keesokan harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Danau Tes, tempat Gajah Keram dan Putri Jinggai di culik. Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang.

Setelah itu, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Dengan menggunakan keris tersebut, maka ia masuk ke dalam air tanpasedikit pun tersentuh air. Gajah Merik segera mencari Si Raja Ular, dan menyelam hingga masuk ke dalam danau. Ketika ia menyelam ke dalam danau di lihatnya sebuah gua yang besar dan ada sebuah gapura. Di sana di jaga oleh dua ekor ular besar.

“Hai, manusia! Kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu.

“Saya adalah Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gaja Merik dengan nada menantang.

“Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu.

Baca juga Cerita Rakyat Jawa Timur : Asal Usul Kota Surabaya

Oleh karena Gajah Merik tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak dapat dihindari. Gajah Merik dapat mengalahkan kedua ekor ular besar itu. Setelah itu, gajah merik menyusuri lorong gua. Di setiap pintu yang ia lewati, selalu ada dua ekor ular besar. Gajah Merik mengalahkan mereka semua hingga lorong ke tujuh. Ketika Gajah Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak.

“Ha… ha… ha…, anak manusia, anak manusia!”

“Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik.

“Hebat sekali kau anak kecil! Tidak seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu.

“Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik.

“Lepaskan abangku dan istrinya, atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam.

“Ha… ha…. ha…., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus penuhi syaratku,” ujar Raja Ular.

“Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik.

“Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak.

“Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang.

Dengan kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular terkejut melihat kesaktian anak kecil itu.

“Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular.

“Tapi, kamu tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha… ha… ha….!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak.

“Tunjukkanlah kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik.

Tanpa berpikir panjang, Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing. Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang.

Sudah lima hari lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan. Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kehabisan tenaga. Melihat hal itu kesempatan itu Gajah Merik memanfaatkan kesempatan dan menggunakan jurus andalannya. Raja Ular pun tidak mampu melawan kesaktian Gajah Merik. Raja ular mengaku kalah dan membebaskan kakaknya dan Putri Jinggai.

Baca juga Cerita Rakyat Bali : Asal Usul Kota Singaraja

Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik belum juga kembali. Sang Raja memerintahkan beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Danau Tes. Ketika dalam perjalanan hulubalang yang di perintahkan Raja, melihat Gajah Merik, bersama dengan kakaknya dan Putri Jinggai. Tidak berapa lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan dikawal oleh beberapa hulubalang dan juga pasukan yang menjaga di permandian Danau Tes. Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga istana.

Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak penyerahan kekuasaan itu.

Gajah Merik menjadi Raja

 

“Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini, dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah Meram.

“Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja, Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik.

“Ampun, Ayahanda! Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab Gajah Merik memberi syarat.

“Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja penasaran.

“Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik.

Permintaan Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam.

Kisah petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak berani berkata sembrono.

Kami adalah sebuah website yang menggumpulkan berbagai macam cerita dari dalam dan luar negeri.. ada cerita motivasi, cerita lucu, cerita rakyat. Dukung kami dengan cara membagikan cerita - cerita yang sudah kami post kepada teman - teman Anda. pada website cerita-rakyat.com juga terdapat kumulan cerita humor dan kumpulan cerita motivasi, teka - teki dan quiz kalian dapat mengikuti dan membaca nya .... Selamat membaca

Post Comment