Legenda Putri Mambang Linau

Riau adalah salah satu propinsi di Indonesia yang kaya dengan berbagai jenis kesenian tradisional yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Riau. Dari berbagai jenis kesenian tradisional tersebut seni tari (tarian) merupakan jenis kesenian yang paling menarik. Seni tari atau tarian mempunyai berbagai macam jenis seni gerak dibalik gerakan-gerakan tersebut terdapat cerita-cerita yang menarik. Ingin tahu cerita tentang salah satu tarian dari Riau ?? Ikuti Ceritanya berikut ini.

Legenda Putri Mambang Linau

Cerita Rakyat Puteri Mambang Linau

Alkisah, di tanah Bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Ia hidup sebatang kara, orang tuanya sudah tiada, saudaranya juga pergi entah kemana. Meskipun, kehidupannya menyedihkan namun ia adalah pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari-harinya mencari kayu api di dalam hutan, pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya.

Suatu pagi, ketika Bujang Enok sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia dihadang seekor ular berbisa. Karena ular tersebut hendak mematuk Bujang Enok, maka terpaksa, Bujang Enok melecutnya dengan tongkat rotan. Seketika itu juga ular tersebut langsung menggeliat dan mati. “Syukurlah, ular tersebut telah tiada, kita tidak akan diganggu ular itu lagi ”, suara beberapa perempuan terdengar di dekat situ. Semakin lama, suara-suara tersebut semakin jelas terdengar oleh Bujang Enok, namun ia tidak menghiraukan suara tersebut, dan ia terus melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu api.

Pada saat tengah hari, seperti biasanya Bujang Enok pulang ke pondoknya. Ketika dia masuk ke dapur pondoknya, Bujang Enok merasa heran, karena di dapurnya telah tersedia makanan yang kelihatannya sangat lezat. Karena lapar ia pun langsung melahap semua hidangan yang tersaji itu. Sambil menikmati kelezatan makanan itu, Bujang Enok menjadi penasaran karena ia tidak mempunyai saudara dan orang tua maupun tetangga yang rela menyiapkan makanan untuk dia.

Keesokan harinya, Bujang Enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang telah berani masuk ke dalam pondoknya. Hari itu ia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi hingga siang ditunggunya orang yang masuk ke pondoknya. Bujang Enok menunggu di antara semak-semak yang berada tak jauh dari pondoknya. Menjelang tengah hari, tiba-tiba dari arah lubuk, datang tujuh gadis jelita. Mereka datang beriring-iringan dan menjunjung hidangan, lalu masuk ke dalam pondok Bujang Enok. Ketujuh gadis itu mengenakan selendang berwarna pelangi. Namun dari ketujuh gadis itu, gadis yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. Bujang Enok mengawasi gadis itu.

Tak lama kemudian, ketujuh gadis itu keluar dari pondok Bujang Enok, dan berjalan ke arah lubuk hulu sungai. Mereka akan mandi, dan Masing-masing gadis itu menyangkutkan selendangnya pada sebuah ranting kayu. Dengan langkah hati-hati, Bujang Enok membuntuti ketujuh gadis jelita itu. Bujang Enok bersembunyi di balik semak-semak. Bujang Enok mendekati pakaian mereka dan mengambil selendang berwarna jingga. Karena mereka mandi sambil bersendau gurau, sehingga tak menyadari kehadiran Bujang Enok yang tak jauh dari tempat mereka mandi.

Selesai mandi, ketujuh gadis itu naik ke tepi lubuk lalu berganti pakaian. Masing-masing mengambil dan mengenakan selendangnya yang tergantung di ranting. Namun, salah satu dari di antara ketujuh gadis itu yaitu yang mengenakan selendang berwarna jingga, ia tidak menemukan selendangnya. Setelah beberapa lama mereka mencari, mereka tetap tidak menemukan selendang terebut. Menjelang sore, keenam gadis yang telah mengenakan selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang-layang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang itu seorang diri di tepian lubuk. Sementara itu, Bujang Enok tercengang-cengang menyaksikan peristiwa itu dari balik semak-semak.

Setelah melihat hal itu, Bujang Enok keluar dari persembunyiannya dan menghampiri gadis yang sedang mencari-cari selendangnya.

“ Apa sedang engkau cari, wahai gadis cantik? ” tanya Bujang Enok.

“ Hamba sedang mencari selendang. Apakah Tuan mengetahui selendang berwarna jingga di dekat sini ?? ” pinta Gadis itu.

“ Saya bersedia mengembalikan selendang jingga milik Tuan Putri, tetapi dengan syarat, Tuan Putri bersedia menikah dengan saya,” kata Bujang Enok.

“ Asalkan Tuan mengembalikan selendang saya. Saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, tetapi apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita akan bercerai kasih,” kata gadis jelita itu.

“Baiklah, saya akan mengingat janji itu. Nama saya Bujang Enok,” jelas Bujang Enok memperkenalkan dirinya.

“Nama saya Mambang Linau,” kata gadis jelita itu membalasnya.

Sejak saat itu, mereka menjalin cinta kasih dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bujang Enok dan Mambang Linau hidup bahagia, rukun dan berkecukupan.

Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya, ia dikenal pemuda yang pemurah dan baik hati. Lama kelamaan kebaikan hati Bujang Enok terdengar hingga ke kerajaan. sehingga Raja menganggat Bujang Enok menjadi Batin atau kepala kampung di desa Petalangan.  dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Semenjak menjadi batin, Bujang Enok menjadi dekat dengan Sang Raja dan menjadi salah seorang kepercayaan Raja.

Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Raja mengundang orang – orang pembesar istana dan orang kepercayaan Raja. Mereka semua datang bersama istrinya. Ketika itu Raja mempersilahkan para istri calon undangan untuk mempersembahkan tarian. Ketika Putri Mambang Linau melihat tarian itu harinya mulai berdebar-debar. Hatinya pun semakin berdebar kencang ketika tiba giliran Putri Mambang Linau.

Bujang Enok yang duduk di sampingnya menoleh ke arah istrinya, “Wahai adinda Mambang Linau, kakanda menjunjung tinggi titah raja,” bisik Bujang Enok. Mambang Linau mengerti maksud bisikan suaminya, lalu menjawab

“Demi menjunjung titah raja dan rasa syukur atas tuah negeri, saya bersedia menari,” jawab Mambang Linau sambil mengenakan selendang berwarna jingga dan naik ke atas panggung.

Ia pun mulai menari layaknya seekor burung elang. Ia melambaikan selendangnya seraya mengepak-ngepakkannya. para tamu undangan terpesona oleh tarian Putri Mambang Linau, tanpa di sadari perlahan-lahan kakinya tidak berpijak di bumi. Seketika itu ia pun terbang melayang, dan terbang ke angkasa menuju kayangan. Semua tamu undangan yang hadir terperangah menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali lagi. Sejak itu pula, Batin Bujang Enok bercerai kasihdan hidup seorang diri. Betapa besar pengorbanan Bujang Enok, ia rela mengalami ini semua demi menjunjung tinggi titah sang Raja.

Melihat pengorbanan Bujang Enok, sang Raja pun menlantik menjadi Penghulu yang berkuasa di istana. Hingga ada sebuah pantun yang berbunyi:

Ambillah seulas si buah limau
Coba cicipi di ujung-ujung sekali
Sudahlah pergi si Mambang Linau
Hamba sendiri menjunjung duli

Setelah peristiwa itu, setiap tahun diadakan acara tari persembahan. Tarian ini mengisahkan Putri Mambang Linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan Bujang Enok. gerakan tarian ini menyerupai burung elang, maka tarian itu dinamakan tarian elang-elang. Masyarakat Riau lebih menyebutnya tari olang-olang. Tarian olang-olang ini dimainkan dengan iringan gendang (gubano) rebab, calempong dan gong. Tarian ini dapat dijumpai di kecamatan Siak dan Merbau, kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia.

Cerita rakyat yang mirip 

Kami adalah sebuah website yang menggumpulkan berbagai macam cerita dari dalam dan luar negeri.. ada cerita motivasi, cerita lucu, cerita rakyat. Dukung kami dengan cara membagikan cerita - cerita yang sudah kami post kepada teman - teman Anda. pada website cerita-rakyat.com juga terdapat kumulan cerita humor dan kumpulan cerita motivasi, teka - teki dan quiz kalian dapat mengikuti dan membaca nya .... Selamat membaca

Post Comment