Asal Usul Rawa Pening

Rawa Pening adalah sebuah danau yang merupakan salah satu obyek wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Menurut Legenda, danau ini terbentuk akibat suatu peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut cerita rakyat Asal Usul Rawa Pening.

* * * Asal Usul Rawa Pening * * *

 

Asal Usul Rawa Pening

Dahulu, di sebuah desa tinggallah sepasang suami istri, mereka bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta. Mereka tinggal di desa bernama Ngasem di antara Gunung Merbabu dan Telomoyo. Sepasang suami istri itu terkenal suka menolong dan baik hati. Mereka hidup rukun dengan para peduduk desa yang tinggal di sana. Kehidupan mereka terlihat sangat bahagia. Tetapi di tengah kehidupannya yang bahagia mereka memiliki sedikit masalah. Mereka belum memiliki seorang anak.

Ki Hajar yang mengerti kegalauan istrinya itu akhirnya meminta ijin untuk pergi bertapa, untuk memohon kepada Yang Mahakuasa agar di karuniai seorang anak. Nyai Selakanta pun memenuhi keinginan suaminya, meskipun berat untuk berpisah. Keesokan harinya, berangkatlah Ki Hajar ke lereng Gunung Telomoyo. Tinggallah kini Nyai Selakanta seorang diri.

Waktu berlalau Berminggu-minggu, bahkan sudah berbulan-bulan. Nyai Selakanta menunggu suaminya kembali dari pertapaan, namun tidak ada kabar dan tanda – tanda suaminya akan segera kembali. Lama – kelamaan Nyai Salakanta menjadi cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada suaminya.

Suatu hari, Nyai Selakanta ketika sedang duduk – duduk di halaman rumahnya tiba – tiba merasa mual dan kemudian muntah-muntah. Tidak lama setelah kejadian itu, di ketahuinya bahwa dirinya sedang hamil. Waktu berlalu dengan cepat, Setelah tiba saatnya, ia pun melahirkan. Namun, ia begitu terkejut karena anak yang dilahirkan seekor naga, bukanlah seorang manusia, .

Ia menamai anak itu Baru Klinthing. Nama ini diambil dari nama tombak milik suaminya yang bernama Baru Klinthing. Kata “baru” berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara kata “Klinthing” berarti lonceng.

Meskipun berwujud naga, Baru Klinthing bisa berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta pun heran bercampur haru melihat keajaiban itu. Karena ia malu jika ada warga yang mengetahuinya melahirkan seekor naga, maka ia berencana mengasingkan Baru Klinthing ke bukit Tugur. Tetapi sebelum itu ia merawatnya dulu hingga agak besar. Hingga suatu hari Baru Klinthing menanyakan tentang asal usul Ayahnya.

“Bu, apakah aku mempunyai ayah?” tanyanya dengan polos.

“Iya, anakku. Ayahmu bernama Ki Hajar. Dia sekarang sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Pergilah temui dia dan katakan padanya bahwa engkau adalah putranya, dan Bawalah pusaka tombak Baru Klinthing ini sebagai bukti. ” kata Nyai Selakanta.

Mendengar perintah dari ibunya itu segeralah pergi Setelah memohon restu dan menerima pusaka dari ibunya. Setibanya di sana di lihatnya seorang pria sedang berada di sana.

” Apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar? ” tanya Baru Klinthing

“ Saya adalah Ki Hajar. Bagaimana Engkau bisa tahu namaku ?? Siapa kamu, kenapa kamu bisa berbicara seperti manusia?” tanya pertapa itu dengan heran dan penasaran.

Mendengar jawaban itu, Baru Klinthing langsung bersembah sujud di hadapan ayahnya. Ia kemudian menceritakan siapa dirinya dan menunjukkan pusaka Baru Klinthing kepadanya. Mendegar cerita itu Ki Hajar pun mulai percaya. Namun, ia belum yakin sepenuhnya. Untuk meyakinkannya Ia menyuruh Baru Klinthing untuk melingkari Gunung Telomoyo.

Berbekal kesaktiannya Baru Klinting berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Ki Hajar pun mengakui bahwa naga itu adalah anaknya. Kemudian ia memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur, agar tubuh Baru Klinthing dapat berubah menjadi manusia.

Sementara itu, di tempat lain ada sebuah desa bernama Pathok. Desa ini sangat subur dan makmur, karena itu semua penduduk desa ini sangat angkuh. Suatu ketika, penduduk Desa Pathok akan mengadakan merti dusun (bersih desa), yaitu pesta sedekah bumi setelah panen. Berbagai makanan lezat dan acara tari – tarian akan disajikan. Untuk itulah, sebagian warga pergi berburu binatang di Bukit Tugur.

Ketika sampai di sana, tiba-tiba mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Naga ini tak lain adalah Baru Klinthing. Mereka beramai-ramai menangkap Naga itu. Setiba di desa, mereka memotong – potong dan memasak naga itu untuk dijadikan hidangan dalam pesta.

Peristiwa Rawa Pening

Karena kesaktian pertapaannya ternyata Baru Klinthing sudah memisahkan diri dari tubuhnya yang dulu sehingga menjadi manusia. Ketika para warga sedang asyik berpesta. Baru Klinthing menjelma menjadi laki laki yang tubuhnya penuh dengan luka, sehingga menimbulkan bau.  Sesaat ia meminta makanan kepada warga, tak satu pun yang mau memberi makan. Mereka justru memaki-maki, bahkan mengusirnya. Tiba – tiba ada seorang nenek yang menghampirinya dan mengajak ke rumahnnya sambil menghingkan makanan lezat. Ketika menikmati makanan itu nenek tersebut bercerita bahwa warga disini memiliki sifat yang sangat angkuh. Sang Nenek juga tidak di undang oleh para warga karena jijik melihat nenek tersebut.

Mendengar cerita itu Baru Klinthing menjadi sangat marah. Sambil keluar dari rumah nenek tersebut Baru Klinthing berkata “ Jika nanti Nenek mendengar suara gemuruh, segeralah siapkan lesung kayu (lumpang: alat menumbuk padi)! ”

Baru Klinthing kembali ke pesta dengan membawa sebatang lidi. Setiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi itu ke tanah.

“Wahai, kalian semua. Jika kalian merasa hebat, cabutlah lidi yang kutancapkan ini!” tantang Baru Klinthing.

Merasa diremehkan, warga pun beramai-ramai hendak mencabut lidi itu. Mula-mula, para anak kecil disuruh mencabutnya, tapi tak seorang pun yang berhasil. Ketika giliran para kaum perempuan, semuanya tetap saja gagal. Akhirnya, kaum laki-laki yang dianggap kuat pun maju satu persatu. Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu mencabut lidi tersebut.

Baru Klinthing segera mencabut lidi itu. Karena kesaktiannya, ia pun mampu mencabut lidi itu dengan mudahnya. Begitu lidi itu tercabut, suara gemuruh pun menggentarkan seluruh isi desa. Beberapa saat kemudian, air menyembur keluar dari bekas tancapan lidi itu. Semakin lama semburan air semakin besar sehingga terjadilah banjir besar. Semua penduduk kalang kabut hendak menyelamatkan diri. Namun, usaha mereka sudah terlambat karena banjir telah menenggelamkan mereka. Seketika, desa itu pun berubah menjadi rawa atau danau, yang kini dikenal dengan Rawa Pening.

Sementara itu, usai mencabut lidi, Baru Klinthing segera berlari menemui Nyi Latung yang sudah menunggu di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu. Maka, selamatlah ia bersama nenek itu. Setelah peristiwa itu, Baru Klinthing kembali menjadi naga untuk menjaga Rawa Pening.

Suka membaca cerpen motivasi, ikuti kumpulan cerpen motivasi di bawah ini 

. Berbuat Baik tetapi memberi sisa kotoran

. Celaka Karena Kasih yang terlalu dalam .. . . . . 

. Pilihan di sebuah persimpangan

Pesan Moral Asal Usul Rawa Pening

Pesan moral cerita rakyat legenda Rawa Pening : sifat sombong, angkuh adalah sifat tidak terpuji. Hendeklah kita saling tolong menolong dan saling membantu, tanpa memandang status social dan budaya.

Kami adalah sebuah website yang menggumpulkan berbagai macam cerita dari dalam dan luar negeri.. ada cerita motivasi, cerita lucu, cerita rakyat. Dukung kami dengan cara membagikan cerita - cerita yang sudah kami post kepada teman - teman Anda. pada website cerita-rakyat.com juga terdapat kumulan cerita humor dan kumpulan cerita motivasi, teka - teki dan quiz kalian dapat mengikuti dan membaca nya .... Selamat membaca

Post Comment