Asal Mula Danau Malawen

Sungai Malawen adalah Sungai yang terletak di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Menurut cerita dahulu di tepian danau ini terdapat berbagai macam jenis anggrek dan hidup berbagai jenis ikan. Namun karena terjadi suatu peristiwa, sungai itu berubah menjadi danau. Peristiwa apakah yang terjadi sehingga sungai itu berubah menjadi danau? Ikuti Kisahnya berikut ini.

 * * * Cerita Rakyat Asal Usul Danau Malawen * * *

Legenda Danau MalawenDi ceritakan dahulu kala, di tepi sebuah hutan di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hidup sepasang suami-istri miskin. Meskipun hidup serba pas-pasan, mereka senantiasa saling menyayangi dan mencintai. Sudah sepuluh tahun mereka berumah tangga, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Sepasang suami-istri tersebut sangat merindukan kehadiran seorang buah hati belaian jiwa untuk melengkapi keluarga mereka. Untuk itu, hampir setiap malam mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar impian tersebut dapat menjadi kenyataan. Setiap harinya mereka melakukan doa puasa berharap agar keinginannya terkabul.

Setelah beberapa bulan berlalu, sekitar 3 bulan. Ternyata doa mereka di dengarkan oleh Sang Maha Kuasa, Suatu sore sang istri merasa seluruh badannya tidak enak dan ia merasa mual – mual. Akhirnya mereka pun mendapatkan sebuah tanda-tanda akan kehadiran si buah hati dalam keluarga mereka.

Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah sembilan bulan berlalu. Pada malam itu sang Istri melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Kumbang Banaung. Alangkah senang dan bahagianya sepasang suami-istri itu, karena anak yang selama ini mereka idam-idamkan telah mereka dapatkan. Mereka pun merawat dan membesarkan Kumbang Banaung dengan penuh kasih sayang. Setiap harinya ia mereka memberinya petuah atau nasehat agar ia menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan selalu berlaku santun serta bertutur sopan ke mana pun pergi. Sang ayah juga mengajarinya berburu.

Seiring berjalannya waktu, Kumbang Banaung pun tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan rupawan. Namun, harapan kedua orangtuanya agar ia menjadi anak yang berbakti tidak terwujud. Perilaku Kumbang Banaung semakin hari semakin buruk. Semua petuah dan nasehat sang Ayah tidak pernah ia hiraukan.

Pada suatu hari, sang Ayah sedang sakit keras. Kumbang Banaung memaksa ayahnya untuk menemaninya pergi berburu ke hutan. Tetapi karena keadaan Sang Ayah cukup mengkhawatirkan, Sang ayah tetap tidak dapat menemaninya. Akhirnya Kumbang Banaung pergi sendirian ke hutan. Sebelum berangkat ke hutan Sang ayah memberikan pusaka kepada anaknya yaitu piring malawan. ” Piring pusaka ini dapat digunakan untuk keperluan apa saja. ” Kata Sang Ayah.

Setelah menyiapkan segala keperluannya, berangkatlah ia ke hutan seorang diri. Setelah menyusuru hutan cukup lama ia belum juga mendapatkan seekor binatang. Ia tidak ingin pulang ke rumah tanpa membawa hasil. Akhirnya, ia melanjutkan perburuannya dengan menyusuri hutan tersebut. Tanpa disadarinya, ia telah berjalan jauh masuk ke dalam hutan.

Ketika masuk ke dalam hutan hutan, di lihatnya sinar api ternyata Kumbang Banaung sampai di sebuah desa bernama Sanggu. sinar api yang di lihatnya itu ternyata berasal dari desa itu, di sana sedang diadakan upacara adat yang diselenggarakan oleh Kepala Desa untuk mengantarkan masa pingitan anak gadisnya yang bernama Intan menuju masa dewasa. Upacara adat itu diramaikan oleh pagelaran tari.

Ketika di lihatnya gadis yang bernama Intan, begitu terpesona Kumbang Banaung oleh kecantikannya. Tidak terasa, hari sudah hampir sore, Kumbang Banaung segera pulang ke rumah. Pada malam harinya, Kumbang Banaung tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat terus pada wajah Intan.

Keesokan harinya, Kumbang Banaung berpamitan kepada kedua orangtuanya ingin berburu ke hutan. Namun, secara diam-diam, ia kembali lagi ke Desa Sanggu ingin menemui si Intan. Setelah berkenalan dan mengetahui bahwa Intan adalah gadis cantik yang ramah dan sopan, maka ia pun jatuh hati kepadanya. Begitu pula si Intan, ia pun tertarik dan suka kepada Kumbang Banaung. Namun, keduanya masih menyimpan perasaan itu di dalam hati masing-masing.

Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Sejak saat itu, Kumbang Banaung sering pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Namun hubungan mereka yang sembunyi – sembunyi menjadi pembicaraan penduduk setempat. Sebagai anak Kepala Desa, hal itu dapat menjelekkan nama baik keluarganya. Oleh karena itu Ayah Intan menjodohkan Intan dengan seorang juragan rotan di desa itu.

Perjodohan Intan dengan juragan rotan terdengar oleh Kumbang Banaung. Kumbang Banaung segera menemui Intan, dan mengungkapkan perasaannya kepada Intan. Kumbang Banaung juga yakin bahwa Intan juga mencintainya, setelah beberapa saat ia mendesak, akhirnya Intan pun menceritakan keadaan yang sebenarnya. Intan juga mengakui bahwa ia juga suka kepadanya, namun takut dimarahi oleh ayahnya. Mengetahui keadaan Intan tersebut, Kumbang Banaung pun segera pulang ke rumahnya untuk menyampaikan niatnya kepada kedua orangtuanya agar segera melamar Intan.

“ Kita ini orang miskin, Anakku! Tidak pantas melamar anak orang kaya. ” Kata sang Ayah.

“ Dengarkan,  perkataan ayahmu, Nak! Orang tua Intan tidak akan menerima lamaran kita. ” sahut ibunya.

“ Tidak, Ibu! Aku dan Intan saling mencintai. Dia harus menjadi istriku. ” jawab Kumbang Banaung.

“ Urungkanlah niatmu itu! Nanti kamu dapat malapetaka. Mulai sekarang kamu tidak boleh menemui Intan lagi! ” perintah ayahnya.

Kumbang Banaung dan Danau Malawen

Cerita rakyat Kalimantan tengah danau malawenPada saat malam hari, pada waktu itu hujan rintik – rintik. Kumbang Banaung yang tetap ingin menikahi Intan bagaimana pun caranya. Diam-diam ia pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Ia berniat mengajaknya kawin lari. Setelah melihat keadaan di sekelilingnya aman, keduanya berjalan mengendap-endap ingin meninggalkan desa itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba beberapa orang warga yang sedang meronda melihat mereka.

Begitu warga melihat Kumbang akan membawa lari Intan, warga segera membunyikan kentungan. warga berdatangan mereka memanggil Kumbang dan mengejar mereka. Kumbang dan Intan berlari menghindari pada warga hingga akhirnya mereka sampai di sebuah sungai. Mereka tidak dapat menyeberangi sungai tersebut.

Dalam keadaan panik, Kumbang Banaung tiba-tiba teringat pada piring malawen pemberian ayahnya. Ia pun segera mengambil piring pusaka itu dan melemparkannya ke tepi sungai. Secara ajaib, piring itu tiba-tiba berubah menjadi besar. Mereka pun menaiki piring itu untuk menyebrangi sungai. Mereka tertawa gembira karena merasa selamat dari kejaran warga. Namun, ketika sampai di tengah sungai, cuaca yang awal nya hanya hujan rintik – rintik tiba – tiba berubah menjadi hujan yang sangat lebat. Suara guntur bergemuruh dan membuat gelombang air sungai menjadi sangat besar. Gelombang air sungai itu menghatam piring malawen yang mereka tumpangi hingga terbalik. Beberapa saat kemudian, sungai itu pun menjelma menjadi danau. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Danau Malawen. Sementara Kumbang dan Intan menjelma menjadi dua ekor buaya putih. Konon, sepasang buaya putih tersebut menjadi penghuni abadi Danau Malawen.

Pesan Moral Cerita Rakyat Danau Malawen

Akibat buruk dari sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orangtua. Sifat ini tercermin pada perilaku Kumbang Banaung dan Intan yang tidak mau mendengar dan menuruti nasehat kedua orang tua mereka. Akibatnya, Tuhan pun murka dan menghukum mereka menjadi dua ekor buaya putih.

Kami adalah sebuah website yang menggumpulkan berbagai macam cerita dari dalam dan luar negeri.. ada cerita motivasi, cerita lucu, cerita rakyat. Dukung kami dengan cara membagikan cerita - cerita yang sudah kami post kepada teman - teman Anda. pada website cerita-rakyat.com juga terdapat kumulan cerita humor dan kumpulan cerita motivasi, teka - teki dan quiz kalian dapat mengikuti dan membaca nya .... Selamat membaca

Post Comment